Showing posts with label Ar SOAL JAWAP. Show all posts
Showing posts with label Ar SOAL JAWAP. Show all posts

Hukum Memilih Calon Pemimpin Non Muslim






Apakah boleh bagi seorang muslim memberikan suara (baca: nyoblos) dalam pemilu? Apakah boleh memberikan suara kepada caleg non-muslim (yang kafir)?



Jawab:

Kaum muslimin tidak boleh memberikan suara kepada calon non muslim. Tindakan tersebut berarti memuliakan dan meninggikan posisi orang kafir serta memberi jalan bagi orang kafir agar bisa menguasai kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,



وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141)




Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.



[Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua]



Ada yang berdalil dengan kesahan memilih caleg non-muslim dengan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di mana ia bercerita,



وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari no. 2264).



Ini memang menjadi dalil para ulama akan bolehnya mempekerjakan orang kafir. Namun pembolehannya dengan syarat:



  • Orang kafir tidak memiliki kekuasaan menguasai kaum muslimin
  • Orang kafir tidak merasa di atas kaum muslimin.



Jadi sah-sah saja jika mempekerjakan orang kafir di pabrik atau untuk proyek pembangunan. Sebagaimana Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bekerjasama dalam mudhorobah (usaha bagi hasil) untuk mengurus tanaman dengan seorang Yahudi dari Khoibar. Yahudi tersebut lalu mendapatkan separuh dari hasil panen. Adapun jika mempekerjakan non-muslim lantas mereka memiliki kekuasaan pada kaum muslimin atau mereka bisa mengorek berita-berita kaum muslimin, maka seperti ini tidak dibolehkan. Lihat Tadzhib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 238, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin.



Jika kita melihat kembali hadits Bukhari yang disebutkan di atas, diterangkan bahwa non-muslim tersebut bertindak sebagai penunjuk jalan saja, bukan ingin memperjuangkan Islam. Itu pun termasuk bentuk tolong menolong yang mubah selama syarat di atas yang kami sebutkan terpenuhi. Sedangkan dalam hal Pemilu, jika caleg non-muslim yang dipilih, maka mustahil ia bisa memperjuangkan Islam di negeri minoritas muslim. Jika yang muslim saja tidak bisa memperjuangkan dakwah Islam di negeri minoritas, bagaimana sampai mengharap dari non-muslim? Apa jika caleg non-muslim terpilih bisa mengajak masyarakat muslim untuk shalat dan menunaikan kewajiban yang lain? Lebih aneh lagi jika yang jadi caleg adalah seorang pendeta dan ia disuruh menyuarakan Islam. Padahal kita tahu sendiri bahwa pendeta itulah yang paling benci pada Islam. Lantas bagaimana bisa jadi penolong atau mau dianalogikan dengan penunjuk jalan di atas?!



Ditambah lagi jika kita kembali di awal dengan mengkritik sistem demokrasi yang jelas menyelisihi prinsip Islam. Dan tidak pernah di negeri kita ini dijumpai patai yang memperjuangkan Islam dengan masuk Parlemen bisa berhasil menegakkan syari’at Islam di tanah air. Bagaimana mungkin para kyai bisa mengalahkan para preman lewat sistem demokrasi yang menghalalkan segala cara?!



Yang bisa menyadari hal ini jika ia masih membuka hati dan menerima kebenaran.
Hanya Allah yang memberi hidayah dan taufik.

Hukum menggabungkan Aqiqah, Qurban satu niat

Bolehkah menggabungkan Aqiqah dan Qurban dalam satu niat


Banyak sekali diantara kaum muslimin yang bertanya-tanya tentang hukum menggabungkan niat Aqiqah dan Qurban dalam satu waktu, atau dengan kata lain menyembelih hewan Qurban dan Aqiqah serentak dengan satu niatan dan satu hewan qurban. Hal tersebut bisa saja terjadi lantaran adanya berbagai hal dan alasan, entah dikarenakan sedikitnya harta yang dimiliki dalam melaksanakan dua ibadah tersebut dalam waktu yang berbeda, atau bahkan ada pula dengan alasan agar lebih hemat, efisien dan praktis. Dan masih banyak alasan-alasan lainnya. 

Lalu bagaimana hukumnya Aqidah dan Qurban dilakukan berentak tersebut? 

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. 
Pertama: DiBOLEHKANnya untuk menggabungkan antara Qurban dan Aqiqah dengan satu niat. Para ulama yang berpendapat dengan dibolehkannya hal tersebut diantaranya: 
riwayat dari Imam Ahmad, madzhab hanafy, Hasan Basri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah Rahimahumullah. 
Alasan dari pendapat ini adalah: 
 * Memberi kemudahan kepada manusia dalam menjalankan kedua ibadah tersebut. 
* Karena maksud dari kedua ibadah tersebut adalah sama-sama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan cara penyembelihan hewan. 

Kedua: TIDAK BOLEH menggabungkan Qurban dengan Aqiqah Ulama yang berpendapat dengan dilarangkan hal tersebut diantaranya adalah: riwayat dari Imam Ahmad, Madzhab Malikiyah dan Madzhab Syafi’iyah. 
Alasan dari pendapat ini adalah: 
 * Ibadah yang mau digabungkan itu bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (arab: Laysat maqshudah li dzatiha), dalam artian ibadah itu bisa diwakilkan pelaksanaannya dengan ibadah lain yang sejenis. Adapun jika kedua ibadah itu berdiri sendiri (arab: Maqshudah li dzatiha), dalam artian keduanya dituntut pelaksanaannya sendiri-sendiri karena maksud dan tujuan kedua ibadah itu berbeda, maka yang seperti ini tidak boleh menggabungkan keduanya. 

Lalu bagaimana kita memahami dan menyikapinya? Ketika kita melihat permasalahan tentang hukum pelaksanaan Aqiqah dan Qurban dalam satu waktu dan satu niat, maka kita sebenarnya telah mengetahui bahwa antara Aqiqah dan Qurban tentu mempunyai niatan yang khusus. Dan kedua ibadah tersebut merupakan ibadah yang berdiri sendiri. 
1. Ibadah yang berdiri sendiri-sendiri Tentu kita tahu bahwa maksud disyariatkannya ibadah Aqiqah adalah penyembelihan hewan dengan niatan rasa syukur kita kepada Allah atas pemberian (titipan) anak yang telah Allah limpahkan kepada kita selaku orang tua. Sedangkan Qurban tentu sudah jelas bahwa penyembelihannya di hari raya yang khusus, yang tidak asing bagi kita yaitu di Hari Raya Idhul Adha Al Mubarak. Dikarenakan kedua ibadah itu tidak sama jenis dan waktunya, begitu juga niat dan penyebabnya juga berbeda, maka tidak mungkin ibadah satu mewakili ibadah yang lainnya, seperti halnya disaat orang haji menyembelih hewan untuk tamattu’ maka tidak bisa digabungkan dengan penyembelihan hewan karena ada fidyah. Begitu juga dengan penyembelihan hewan untuk Qurban dan Aqiqah ini. Contoh lainnya adalah pelaksanaan sholat malam (baik tahajud atau sunah fajr) dikarenakan mungkin kelupaan dalam melaksanakannya kemudian kita menggabungkannya dengan shalat dhuha. Hal ini juga tidak boleh, karena asal waktu perngerjaan kedua shalat sunah tersebut berbeda. Satu pada malam hari, sedangkan satu lagi pada pagi hari setelah terbitnya matahari. 

2. Bukan ibadah yang berdiri sendiri Namun sebaliknya, jika ibadah tersebut memiliki kesamaan jenis, waktu dan juga sebabnya maka ibadah tersebut bisa digabung. Sebagai contoh: Puasa 6 hari di bulan syawal dengan puasa senin kamis. Yang dituntut dari puasa 6 hari di bulan syawal adalah pokoknya berpuasa 6 hari di dalamnya, hari apapun itu. Karenanya, jika seseorang berpuasa pada hari senin atau kamis di bulan syawal, maka itu bisa sekaligus dia jadikan sebagai puasa syawal baginya. Contoh lainnya adalah penggabungan antara shalat rawatib dengan shalat tahiyatul masjid. Tahiyatul masjid bukanlah ibadah yang berdiri sendiri (maksudnya adalah shalat 2 rakaat –apapun jenisnya- sebelum seseorang duduk didalam masjid. Karenanya, kapanpun seseorang sudah shalat 2 rakaat sebelum duduk, maka dia telah melakukan tahiyatul masjid entah apapun jenis shalat 2 rakaat yang telah dia lakukan. 


Kesimpulan Dari penjelasan diatas, meskipun ada beberapa ulama yang membolehkan atau yang melarangnya, keluar dari perbedaan pendapat tersebut dengan senantiasa mewaspadai dan menjaga diri dari sikap tahawun (menggampangkan dalam urusan agama) maka lebih selamat dan lebih baiknya ibadah tersebut dilakukan dengan sendiri-sendiri. 

Bapa Nyanyuk Adakah Sah Abang Menjadi Wali ?

Hiasan


Soalan:
 
saya bakal mendirikan rumah tangga, tetepi bakal bapa mertu saya telah nyanyuk. adakah bakal abang ipar saya boleh menjadi wali tanpa mendapat kebenaran mahkamah? ini kerana, naib kadi dibahagian bakal isteri saya menyatakan bakal abang ipar saya itu perlu mendapat kebenaran mahkamah.


Jawapan:
Assalamualaikum

Wali merupakan orang yang mempunyai hak untuk mewalikan perkahwinan seseorang perempuan yang berada di bawah kuasa perwaliannya. Tertib susunan wali dalam pekahwinan adalah seperti berikut:

a) Bapa

b) Ayah kepada Bapa (datuk)

c) Adik beradik lelaki seibu sebapa

d) Adik beradik lelaki sebapa

e) Anak saudara (anak kepada adik lelaki seibu dan sebapa)

f) Anak saudara (anak kepada adik lelaki sebapa)

g) Bapa saudara seibu sebapa ( adik beradik lelaki kepada bapa yang seibu dan sebapa)

h) Bapa saudara sebapa ( adik beradik lelaki kepada bapa yang sebapa)

i) Sepupu ( anak lelaki kepada bapa saudara yang seibu dan sebapa)

j) Sepupu ( anak lelaki kepada bapa saudara yang sebapa)

h) Jika kesemua wali di atas tidak ada, maka wali yang digunakan adalah wali hakim/sultan

Perpindahan hak perwalian daripada bapa kepada wali-wali lain perlulah mengikut susunan keutamaan wali. Ini bermakna, sekiranya bapa telah meninggal dunia, maka hak menjadi wali akan berpindah kepada datuk. Sekiranya datuk juga telah meninggal dunia, maka hak mewalikan perkahwinan berpindah pula kepada adik beradik lelaki seibu sebapa dan begitulah seterusnya.

Dalam kes anda di atas, memandangkan bapa pengantin perempuan masih ada, maka perpindahan hak perwalian perlu mendapat kebenaran mahkamah. Sekiranya dibenarkan, maka datuk sebelah bapa (sekiranya masih hidup) adalah lebih berhak mewalikan perkahwinan tersebut.

Apakah Balasan Kepada Orang Kafir Yang Baik?

HIASAN

Soalan: 

Salam, 
Apakah balasan kepada orang kafir yang baik? 

Jawapan:

Waalaikumussalam. 

Dalam Islam tiada istilah kafir baik atau kafir jahat, kerna apabila Islam menyebut kafir itu bermaksud ia bukan seorang Islam. Sekalipun ada orang kafir yang baik dan yang jahat dan begitu juga ada orang Islam baik dan jahat. Dalam soal balasan diakhirat Allah menyatakan secara umum bahawa orang kafir itu ditempatkan di neraka. dan tidak pula menyatakan orang kafir baik itu ditempatkan di syurga. Jika soalan itu kita ajukan kepada orang yang beragama lain pada pandangan agama mereka dan apa pula ia menjawab maka sudah pasti ia akan menjawab orang Islam baik itu masuk neraka juga. 

Oleh yang demikian dalam soal kebaikan seseorang bukan semata-mata diukur dengan anutan agama mereka kerana orang Jepun/koria/Amereka dan lain-lain negara maju boleh menampakkan kebaikannya dalam berbagai sudut samaada dari segi amanah/tanggungjawab dalam pekerjaan/etika/moral dan sebagainya. Tetapi dalam hal ini ia tidak boleh diukur dengan agama, dengan maksud agama/Islam tidak mengukur dengan kebaikan sebegini. Oleh itu bagi orang bukan Islam/kafir maka balasan akhirat itu tetap juga neraka. Yang penting bagi kita bagaimana kita ingin berdakwah kepada meraka supaya ia terpikat dengan agama Islam dan terus memeluk Islam.

Sedekah Sunat Boleh Menjadi Wajib


Memberi sedekah hukumnya sunnah muakkad yang sangat dianjurkan sebagaimana sering dijelaskan, namun juga bisa menjadi haram ketika orang yang bersedekah mengetahui bahwa pemberian sedekahnya akan digunakan untuk keperluan maksiat.


Sedekah sunat juga bisa menjadi wajib ketika, misalnya, seseorang menjumpai orang lain dalam keadaan sangat membutuhkan makanan sementara dia mempunyai makanan yang bisa diberikan. Dengan kata lain, diwajibkan menyerahkan harta yang dimiliki selagi tidak dibutuhkan seketika itu.

Untuk menggambarkan derajat keutamaan bersedekah Imam As-Suyuti merinci pahala sedekah kedalam lima macam. Pertama, satu digantikan sepuluh yakni sedekah pada orang yang sehat jasmani. Kedua, satu digantikan sembilan puluh yakni sedekah kepada orang yang buta (cacat). Ketiga, satu digantikan sembilan ratus yakni sedekah kepada kerabat yang membutuhkan.Keempat, satu digantikan seratus ribu yakni sedekah kepada orang tua. Kelima, satu diganti sembilan ratus ribu yakni kepda seorang ulama yang sangat mumpuni pemahaman keagamaannya. ( Fakta Kemiskinan Umat Islam Kemboja )
Mungkin ada orang akan bertanya begini, lebih utama manakah mencari harta untuk semata-mata beribadah kepada Allah atau dengan niatan untuk disedekahkan kepada orang yang memerlukan?Jawapannya Ialah:  kedua-duanya sama benarnya.

Imam Ghazali berpendapat bahwa orang kaya yang bersyukur itu lebih baik daripada orang miskin yang sabar. Bersyukur dalam pengertian bahwa nafsu memiliki hartanya sama seperti orang miskin. Dia hanya akan membelanjakan hartanya untuk keperluan Asas Saja. Juga mampu menahan diri dari keinginan Hawa nafsu karena dia ingat betul bahwa banyak orang yang sedang membutuhkan hartanya.
Namun kalangan sufi lainnya mereka berpenadapat, ”Orang miskin yang sabar itu lebih utama dari semuanya!”  Sumber

Perbezaan Antara Solat Lelaki Dan Wanita


Dalam mengerjakan solat, terdapat perbezaan ketara di antara lelaki mahupun perempuan terutamanya dari segi aurat. Seperti kita tahu, wanita tidak boleh mengimamkan lelaki, tetapi mereka boleh mengimamkan bagi golongan wanita itu sendiri. Di sini terdapat pecahan tentang apakah perbezaan antara lelaki dan perempuan dalam solat.

Perempuan disunatkan dibezakan dengan lelaki dalam 5 perkara:

1)Menghimpunkan/merapatkan sesetengah anggota dengan lain ketika sujud. Iaitu dengan merapatkan kedua siku kepada dua rusuk ketika sujud dan merapatkan perut dengan kedua paha. Keadaan ini berbeza dengan lelaki yang disunatkan supaya merenggangkan dua sikunya dari dua rusuk dan mengangkat perutnya dari kedua pahanya.

Al-Baihaqi (2/232) meriwayatkan:
Nabi Muhammad saw telah berjalan di kawasan dua orang perempuan yang sedang bersembahyang,lalu Baginda bersabda:Apabila kamu berdua sujud,maka himpunkan/rapatkan sesetengah daging(anggota) ke bumi,sesungguhnya perempuan dalam masalah tersebut tidak sama dengan lelaki.
2)Perempuan hendaklah merendahkan suaranya di khalayak lelaki yang bukan mahramnya. Oleh itu dia tidak boleh menyaringkan bacaan dalam sembahyang yang. dibaca dengan nyaring kerana bimbang berlakunya fitnah. Firman Allah taala..
“Dan janganlah kamu bercakap dengan suara yang lemah lembut(lunak) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya(fasik dan kurang warak).”
(Ahzab:32)
Hal ini berbeza dengan lelaki kerana lelaki disunatkan membaca dengan kuat/nyaring ketika sembahyang pada sembahyang yang dibaca dengan nyaring.

3)Apabila berlaku sesuatu kepada seseorang perempuan ketika sembahyang dan dia ingin menyedarkan/memberitahu seseorang di sekelilingnya bagi sesuatu perkara,maka dia hendaklah menepuk dengan memukul belakang tapak tangan kirinya dengan menggunakan tangan kanannya.

Manakala bagi lelaki apabila berlaku sesuatu di dalam sembahyang,dia disunatkan bertasbih dengan suara yang tinggi,bukan dengan niat tasbih(memberi ingat)

Ini berdasarkan kepada apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim drpd Sahl bin Saad bahwa Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa yang merasa ragu terhadap sesuatu perkara(yang perlu diingatkan) ketika sembahyang,maka hendaklah dia bertasbih,kerana sesungguhnya apabila dia bertasbih,perkara yang diragukan itu akan diberi perhatian.Manakala menepuk tangan hanyalah bagi golongan perempuan.(Iaitu dengan memukul belakang tapak tangan kiri dengan tapak tangan kanan).

4)Seluruh anggota badan adalah aurat,kecuali muka dan tapak tangannya.

5)Perempuan disunatkan iqamah tetapi tidak disunatkan azan. Walaubagaimanapun,sekiranya dia melakukan azan tersebut dengan suara yang perlahan,maka tidak makruh,dan azan tersebut dikira sebagai zikir yang diberi pahala kepadanya.Jika diangkat suaranya ketika azan,maka ianya makruh dan menjadi haram sekiranya dibimbangi berlaku fitnah.

Berlainan dengan lelaki. Sebagaimana yang anda ketahui bahawa azan adalah disunatkan kepada lelaki ketika menunaikan sembahyang fardhu.

(Dipetik dari Kitab Fikah Mazhab Shafie dalam menghuraikan bab:bersuci dan sembahyang.)


 Memang apa yang kita nampak bagi kaum perempuan terdapat sedikit kekangan syarat yang wajib diikuti. Semua ini adakah kerana Allah ingin memelihara kehormatan seseorang yang bergelar perempuan. Semua perintah Allah SWT mengandungi hikmah yang tersendiri. Semoga solat kita semua diterima Allah SWT.

Jawapan Ustaz Azhar Tentang lagu Gangnam Style

Sekarang ni satu dunia dilanda demam "Gangnam Style".. Gua pun minat lagu korea tu beb.., tapi tak lah sampai teringin nak menari tarian Gangnam tu.. Mesti huduh banget!!

Apa yang nak gua ceritakan kat sini ialah berkenaan satu soalan dari hamba Allah mengenai fenomena Gangnam style ni kepada Azhar Idrus didalam Fesbuk..

Kalau ikut jawapan yang Azhar Idrus bagi kepada soalan tersebut, memang jelas bahawa Azhar Idrus seolah-olah suruh semua tak payah dengar lagu korea tu..

Dalam hal ni.., gua sedikit sebanyak setuju dengan Azhar Idrus.. Tapiiii..., ada jugak yang gua tak setuju beb...

Kalau dalam bab takut terpengaruh dengan gaya hidup sosial generasi muda korea tu.., gua memang setuju.., tapi dalam bab tak boleh dengar langsung lagu Gangnam Style, gua agak berselisih pendapat sikit lahh..

Bagi gua, bukannya tak boleh nak dengar lagu ni beb.., cuma jangan sampai ia memudaratkan hati je laa.. Maksudnya, jangan sampai taksub dan lalai bila dengar lagu..

Lagi satu, gua rasa tarian dalam video klip Gangnam Style tu bagus untuk dijadikan senaman aerobik dalam rumah.. Tak salah rasanya kalau macam tu kann...

Kalau semua benda macam ni nak diharamkan.., elok haramkan semua hiburan yang ada didalam TV di Malaysia ni termasuklah dalam radio sekali..

Dan gua rasa Azhar Idrus juga patut keluarkan "fatwa" pasal hukum main instrumen bertali seperti gitar..

Bukan ke ada ulamak terdahulu mengharamkan alat hiburan bertali? Dan bukankah Azhar Idrus sendiri suka main gitar?

So nak kira macam mana tu beb..? Hehehehehe...

Apapun.., lagu-lagu macam Oppa Gangnam Style ni patutnya kita ambik sekadar hiburan je lah yee.. Tak payah kecoh-kecoh beb...

Tak perlulah nak sibuk-sibuk haramkan hanya kerana lagu tu popular seluruh dunia.. Lagipun, lirik lagu tu tak ada apa yang teruk rasanya..

Lirik lagu merdeka Pak Rais lagi teruk dari lirik lagu Oppa tuu... Hahahaha...Sumber

Cium Mulut: Apa Jawapan Ustaz Azhar Idrus?


ak tahu la kalo mangkuk hayun tuh langsung takde ilmu agama atau saja nak tanya suka-suka.
Apa-apapun, UAI memang terbaik sebab santai je layan semua pertanyaan even pertanyaan mengarut dan childish seperti ini. – Informasi Dot My

Bolehkah Baca doa solat tahajud bahasa Melayu


APAKAH hukum membaca doa solat tahajud ketika duduk tahiyat akhir sebab saya tidak ingat doanya.


RUSMAN, Pahang



SOLAT tahajud atau solat malam adalah solat sunat yang paling afdal ketika semua orang nyenyak tidur. Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Sebaik-sebaik solat selepas solat fardu


ialah solat malam (tahajud).” Waktu afdal ialah pada waktu separuh akhir malam dan waktu sahur selepas terbangun daripada tidur. Solat tahajud biasa dilakukan dalam dua rakaat.


Dalam sujud terakhir dibaca doa daripada ayat al-Quran surah al-Isra’, ayat 80 yang bermaksud: “Wahai Tuhanku! Masukkanlah daku ke dalam urusan agamaku dengan kemasukan yang benar lagi mulia, serta keluarkanlah daku daripadanya dengan cara keluar yang benar lagi; dan berikanlah kepadaku daripada sisi-Mu hujjah keterangan serta kekuasaan yang menolongku.”

Selepas selesai solat disunatkan memperbanyakkan bacaan doa dan istighfar. Antara doanya ialah doa yang bermaksud: “Ya, Allah! Bagi-Mu segala puji, Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta seisinya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu benar, (terutusnya) Muhammad adalah benar (dari-Mu), peristiwa hari kiamat adalah benar.

Ya Allah, kepada-Mu aku serah, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali (bertaubat), dengan pertolongan-Mu aku berdebat (kepada orang-orang kafir), kepada-Mu (dan dengan ajaran-Mu) aku menjatuhkan hukum. Oleh itu, ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang. Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Engkau. Maha suci Engkau, Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah yang maha Tinggi dan maha Agung.”

Doa berkenaan hendaklah dibaca dalam bahasa Arab sekiranya dibaca dalam tahiyyat akhir sebelum salam.

Sekiranya tidak dapat menguasai bahasa Arab lebih baik dibaca selepas salam dan diharuskan dalam bahasa Melayu......UstazCambodia...hmetro

Tempoh sebenar untuk qada puasa


SAYA inginkan kepastian tempoh sebenar bagi qada puasa kerana ada pendapat menyatakan wajib diganti sebelum masuk tahun baru hijrah (bulan Muharam).

Jika dilakukan selepas Muharam wajib membayar fidyah puasa. Ada pula pendapat menyatakan wajib diganti sebelum tiba Ramadan seterusnya jika tidak, wajib membayar fidyah.

Saya berpegang kepada pendapat kedua sebagaimana yang pernah dipelajari dan difahami. Bagaimana dengan puasa ganti yang saya lakukan selama ini?

NOOR,

Selangor



DENDA membayar fidyah hanya dikenakan kepada orang yang melengah-lengahkan qada puasa wajib tanpa ada keuzuran sehingga masuk bulan Ramadan pada tahun berikutnya.

Tidak benar pendapat menyatakan wajib digantikan sebelum masuk tahun baru hijrah (bulan Muharam) dan jika dilakukan selepas Muharam wajib membayar fidyah puasa.

Islam menyediakan asas agama yang mudah dan jangan menyusahkan amalan dengan pendapat sedemikian.

Syarat melakukan solat jamak


SAYA berasal dari Pahang, tetapi sudah bekerja di Kuala Lumpur hampir lima tahun. Jarak rumah sewa saya di Kuala Lumpur dengan kampung melebihi dua marhalah.

Bolehkah jika saya pulang ke kampung tiga hari dua malam dan melakukan solat jamak dan qasar di kampung kerana saya tidak lagi menetap di sana secara tetap buat masa ini?

Din,
Pahang


SOLAT jamak dan qasar dalam musafir adalah harus. Ia rukhsah daripada Allah kepada umat Islam. Antara syarat melakukan solat jamak dan qasar ialah (1) apabila seseorang yang bermusafir sampai ke satu destinasi yang dia tidak berniat untuk tinggal menetap (mastautin) di situ. (2) Seseorang itu juga tidak berniat untuk menetap di tempat itu selama empat hari.

Kiraan hari tidak termasuk hari tiba dan hari beredar keluar. Dalam kes anda di atas, solat jamak dan qasar diharuskan apabila tempat menetap anda di Kuala Lumpur dan bukan lagi di kampung dengan memenuhi syarat-syarat di atas......UstazCambodia....Hmetro

Basuh Solekan Dulu Sebelum Wudhu


SAYA musykil mengenai solat saya sama ada diterima Allah atau sebaliknya kerana saya mengambil wuduk tanpa mencuci solekan yang ada pada wajah.

Pada mulanya, ada antara kawan saya kata ia dibolehkan kerana yang penting niat, tetapi ada juga yang berkata ia tidak sah kerana air wuduk tidak sampai ke kulit.

Jadi adakah saya betul-betul perlu membersihkan solekan dulu sebelum berwuduk atau adakah cara lain yang membolehkan solat saya diterima kerana pekerjaan saya sebagai kerani memerlukan saya bersolek.

Begitu juga di malam hari, saya perlu bersolek kerana saya menjalankan perniagaan pakaian dan aksesori wanita seperti menjual pakaian wanita Muslimah, tudung dan jubah.


DYEA,

Johor



BERWUDUK termasuk salah satu cara bersuci dengan menggunakan air bagi menghilangkan hadas kecil dengan cara-cara tertentu (lihat al-Quran, al-Ma’idah (5): 6).

Apa yang penting dalam berwuduk ialah air sampai ke semua anggota wuduk, contohnya air sampai ke muka apabila membasuhnya, begitu juga dengan kedua-dua tangan sehingga ke siku dan seterusnya. Sekiranya ada halangan dan air tidak sampai ke muka, wuduk itu tidak sah. Bagi wanita yang bersolek, mereka hendaklah memastikan air boleh sampai ke anggota wuduk ketika membasuhnya.

Sekiranya seseorang itu menggunakan jenis solekan yang kalis air (lihat, http://waterproofmineralmakeup.com/), maka hendaklah mencucinya terlebih dulu sebelum berwuduk.

Begitu juga dalam kes anda di atas. Islam tidak menghalang wanita bersolek atau berhias (Arab, Tabarruj). Bagaimanapun, ia hendaklah dalam keadaan sederhana dan tidak bertujuan menarik perhatian orang terutama kaum lelaki.

Ini kerana ia mengundang fitnah pada diri sendiri dan orang di sekeliling yang melihat kita. Berhias untuk suami pula sangat digalakkan kerana dapat merapatkan hubungan suami isteri......Ustazcambodia.... Sumber.. hmetro

Bolehkah berkahwin dengan PenZINA?

Assalamualaikum wr.wb.

Saya terus terang saje Ustaz.

Saya telah menjalin hubungan dengan seorang wanita & insyaAllah siap utk menjadikan dia isteri saya. Namun beberapa hari lalu,pasangan saya mengaku bahawa dia tidak dara lagi. Dia pernah melakukannya dengan bekas kekasihnya dan itu sudah terjadi 8 tahun yg lalu.

Dia mengaku hanya melakukan sekali sahaja dan sudah menyesal. Kerana saat itu dia menganggap bakal menjadi isteri dari bekas kekasihnya. Tapi menurut dia hubungan mereka tidak direstui org tuanya kerana suatu hal. Dan bekas kekasihnya itu juga masih teman saya. Yang ingin saya tanyakan:

1. Apakah hukum dalam Islam dibolehkan menikahi wanita tersebut ? Atau lebih baik meninggalkannya dan mencari wanita yg lebih baik?

2. Baru-baru ini bekas kekasihnya ingin balik lagi kepada dia. Saya tahu dia masih mencintainya, kerana mereka berpisah hanya kerana masalah restu dari org tua wanita itu. Apakah saya harus merelakan wanita ini untuk kembali lagi atau tetap dengannya? kerana yang saya tahu dia mencintai saya.

3. Bila saya tetap menikahinya dengan alasan ibadah, apakah saya termasuk orang tidak baik? Kerana menurut Al-Quran surat an-nur (sy lp ayatnya) orang baik berjodoh dengan orang baik, dan yg tidak baik akan berjodoh dengn yang tidak baik (maaf kalau salah). Mohon untuk dijawab agar saya dpt mengambil keputusan tanpa ragu-ragu.Terima kasih atas jawapannya

-Arie-


Jawapan

Semoga Allah merahmati kita semua
1. Sebenarnya hukum menikah dengan orang berzina memang cukup berat, sebahagian Ulamak mengharamkan. Melihat hal ini saya sarankan saudara mencari pasangan yang lain. Jika masih ada peluang untuk mencari pasangan yang lain carilah yang lebih suci. Jika tidak boleh pilih yg lain, dan akan menghasilkan mudarat jika tidak menikah dengannya , maka suruh dia bertaubat terlebih dahulu agar kamu disebut sebagai orang yang terjaga kehormatannya (tidak berzina) menikah dengan yang terjaga kehormatannya (tidak berzina)

2. Jika anda memilih mencari pasangan yang lain maka biarkanlah dia bersama orang yang pernah menzinahinya. Dua-duanya harus bertaubat dan melangsungkan kehidupan yang normal.

3. Orang yang berzina memang dianggap tidak baik selama belum bertaubat. Jika sudah bertaubat maka orang yang bertaubat seperti orang yang tidak punya dosa lagi. Ia kembali suci.
Wallahualam. Sumber | hotreload2u.blogspot.com

Waktu Untuk Melakukan Solat Sunat Nikah...


Waktu Yang Sesuai Untuk Melakukan Solat Sunat Nikah
Soalan
JIKA kita ingin melaksanakan solat sunat nikah, bilakah waktu yang paling sesuai?

Adakah sejurus akad nikah atau boleh dilakukan apabila semuanya selesai iaitu selepas bersalaman dengan hadirin, solekan dan baju sudah berganti?
HAMIMAH,
Johor

Jawapan
Melaksanakan solat sunat nikah boleh dilakukan selepas majlis akad nikah berakhir atau pada masa yang sesuai. Waktu yang terbaik boleh dilakukan bersama isteri iaitu ketika isteri datang menemui suami.

Kedua-duanya hendaklah bersolat terlebih dulu dan seterusnya berdoa kepada Allah supaya mendapat kebaikan daripada perkahwinan serta memohon perlindungan Allah daripada sebarang keburukan.

Terdapat riwayat daripada Abu Said yang menyebutkan bahawa sahabat lain mengajarnya mengenai solat sunat nikah ini, katanya: “Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua solat dua rakaat. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya daripada keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua” (Riwayat Ibnu Abi Shaybah). link islamitusuci

Adakah Perempuan Telan Air Mani Boleh Mengandung ?


Soalan
SAYA ada sedikit pertanyaan mengenai masalah tertelan air mani.
Adakah benar kenyataan iaitu apabila seorang isteri tertelan air mani suaminya, ia boleh menyebabkan si isteri hamil? Saya berharap doktor boleh menjelaskan masalah ini.
AHMED AMIN,
Kuala Lumpur

Jawapan
KEHAMILAN berlaku apabila sperma berjaya menembusi ovum yang lazimnya menung�gu di dalam tiub fallopio selepas ovulasi. Embrio ini kemudian akan ‘ditolak’ ke dalam ruang rahim sebelum implantasi ke dalam lapisan terdalam rahim.

Air mani yang ditelan akan memasuki saluran pencernaan bermula esofagus, gaster (perut), usus kecil dan usus besar. Tiada laluan langsung untuk sperma melalui saluran makanan menuju ke tiub fallopio untuk mensenyawakan ovum.

Malah, sperma mati kerana tidak dapat bertahan di dalam cecair gaster yang mempunyai keasidan yang tinggi.

Di dalam faraj juga sperma tidak dapat bertahan lama, kebanyakannya mati selepas setengah jam berada di dalam faraj akibat sedikit keasidan yang ada di dalam persekitaran faraj untuk melawan jangkitan kuman.

Jika kehamilan berlaku, ia mungkin daripada sperma ejakulasi ke dalam faraj sewaktu sesi hubungan seks yang lain atau daripada sperma yang boleh terkandung dalam cecair daripada zakar pada awal hubungan seks penetratif (sebelum ejakulasi).http://www.islamitusuci.com/

Hukum Mengeluarkan Air Mani diluar Kemaluan Semasa Jimak


Soalan :
Saya dan suami saya merancang keluarga dengan kaedah mengeluarkan air mani di luar rahim. Apakah ini tidak dianggap menolak kurniaan Allah, atau membunuh benih yang boleh menjadi anak?.

Jawapan:
Perbuatan mengeluarkan air mani diluar rahim ketika melakukan persetubuhan dinamakan ‘azal. Ia biasanya dilakukan untuk mengelakkan dari mengandung. Hal ini berlaku sejak zaman Nabi s.a.w. Ini seperti kata seorang sahabah yang terkenal Jabir bin ‘Abd Allah:
كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ
“Kami melakukan ‘azal pada zaman Nabi s.a.w. dan Al-Quran sedang turun” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Maksud Jabir mereka melakukan perkara tersebut pada zaman Nabi s.a.w iaitu masa al-Quran masih diturunkan tetapi mereka tidak pun dilarang oleh al-Quran. Maka dengan ini mengeluarkan air mani di luar rahim untuk mengelakkan mengandung adalah diharuskan. Sama dalam hal ini pil perancang untuk mengelakkan mengandung. Namun oleh kerana wujudnya hadith Muslim yang menamakan ‘azal sebagai al-wa`d al-khafi iaitu membunuh anak secara senyap, maka kebanyakan ulama memakruhkan perbuatan ini.

Di samping itu, hadith yang lain riwayat Muslim juga menyatakan bahawa seseorang yang cuba melakukan ‘azal jika Allah kehendaki tetap akan mendapat anak. Ini mungkin kerana dia tidak dapat mengawal pancutan air mani sebelum dia mencabutnya.

Perlu diingatkan, oleh kerana perbuatan ini boleh menyebabkan isteri hilang kelazatan persetubuhan, atau tidak sampai kemuncak kelazatannya (climax), maka suami yang ingin melakukannya hendaklah mendapat keizinan isteri. Ini kerana persetubuhan adalah hak bersama suami dan isteri.

Demi keadilan dan hak isteri, maka izinnya perlunya perlu diminta. Inilah pendapat yang paling kuat kebanyakan ulama. Sehingga al-Imam Ibn ‘Abd al-Barr (wafat 463H) berkata:  
“Tiada khilaf di kalangan ulama bahawa tidak boleh dilakukan ‘azal dengan isteri yang merdeka melainkan setelah mendapat keizinannya. Ini kerana persetubuhan adalah daripada haknya” (Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari, 10/385, Beirut: Dar al-Fikr).
Di samping perlu difahami, adapun hasrat mencegah kehamilan jika sebabkan bimbang kepapaan, atau kekurangan rezeki, atau kurang kemewahan adalah diharamkan kerana ianya menyamai perbuatan musyrikin dan tidak meyakini rezeki Allah. Jika disebabkan keadaan tertentu yang mendesak seperti kesihatan atau kesibukan maka ia diizinkan.

Namun jika digunakan pencegah kehamilan secara berterusan tanpa sebab adalah diharamkan oleh para ulama. Ini jika dibiarkan akan mengurangkan jumlah umat Islam. Dinasihatkan agar kita memperbanyakkan zuriat, kerana ianya menambahkan kekuatan dan suara umat Islam dalam negara ini.

Makmum Terkilan: Imam Baca Lambat


Assalamualaikum.
Saya terkilan dengan ramai Imam hari ini yang membaca surah Fatihah terlalu laju dalam rakaat 3 & 4 sehingga para makmum di belakang mereka bertaburan dan kelam kabut mengejar untuk bersama dalam solat.  Ada segelintir makmum yang masih rukuk sedang Imam sudah pun duduk antara dua sujud. Peliknya, dalam rakaat 1 & 2, bacaan Imam2 ini amatlah mendayu2, berlagu, bertajwid, dan sempurna pula makhraj huruf-hurufnya. Para tahfiz juga tidak terkecuali  dari tergolong dalam Imam-imam yang terlebih fasih ini. Harap dapat penjelasan dari Ustaz.

Jawapan

Saya rasa dalam masalah ini kita jangan bersangka buruk terhadap imam-imam tersebut, apa kata bagi mendapatkan kepastian anda berjumpa terus dengan imam tersebut dan ceritakan segala perkara yang anda terkilan terhadapnya. Dengan cara ini anda akan mendapat jawapan direct darinya.

Ada tiga kategori bacaan Al-Quran yang ada yang boleh diaplikasikan oleh kita pada setiap hari seperti  :
  1. At-Tartil iaitu bacaan yang perlahan-lahan, tenang dan melafazkan setiap huruf daripada makhrajnya yang tepat serta menurut hukum-hukum bacaan tajwid dengan sempurna, dan merenung makna, hukum dan pengajaran ayat. Tingkatan bacaan ini biasanya bagi mereka yang sudah mengenal makhraj-makhraj huruf, sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid. Tingkatan bacaan ini adalah yang paling baik dan lebih diutamakan. 
  2. At-Tadwir adalah bacaan pertengahan iaitu antara tingkatan bacaan Tartil dan Hadar. Namun tetap memelihara hukum-hukum bacaan tajwid. 
  3. Al-Hadar ialah bacaan yang cepat serta memelihara hukum-hukum bacaan tajwid. Tingkatan bacaan ini kebiasaannya adalah untuk mereka yang telah menghafal Al-Quran. Ini supaya mereka dapat mengulangi hafalan bacaan Al-Quran dalam masa yang singkat.

Bacaan yang paling baik menurut saya ialah At-Tadwir kerana ia tidak laju dan tidak terlalu lambat dan ia sangat sesuai mengikut mud makmum yang ada di belakang imam. Bukan semua makmum yang ada dibelakang imam itu mempunyai keinginan yang sama, ada sebahagian makmum suka pada bacaan lambat dan ada juga suka pada bacaan cepat. Kadang ada juga makmum yang mempunyai masa yang singkat seperti orang musafir. Di sinilah imam perlu memainkan peranannya untuk memastikan segala makmum suka solat berjamaah bersamanya. Maka tindakan yang baik adalah bacaan secara Tadwir dan bacaan ini sering dipraktik oleh imam-imam yang ada.

Imam mempunyai tugas yang besar lagi dari penghulu kampung, kerana imam menjadi pemimpin dalam hal agama dan juga hal-hal keduniaan terutamanya urusan kampung. Imam juga adalah seorang yang dipercayai oleh masyarakat kampung jika dibandingkan dengan penghulu kampung. Bukan mudah menjadi seorang imam kerana dia dipertanggungjawabkan untuk memimpin masyarakat qariah menjadi insan yang baik selain dari menjadi imam di dalam solat. Dalam solat juga imam mestilah memiliki bacaan yang baik dan sempurna. Selain dari itu, imam juga perlu diiktiraf oleh penduduk qariah tersebut bagi mengelakkan sebarang pertikaian dan permusuhan.  Kalau baik solat imam itu maka baiklah solat makmumnya, kalau buruk solat imam itu maka buruklah solat makmumnya. Dari Sahal bin Saad ra diriwayatkan bahawa dia menceritakan :

“Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : Imam itu memiliki tanggungjawab. Kalau dia melakukan sembahyang secara baik, maka dia dan para makmumnya mendapatkan pahala. Dan apabila dia melakukannya dengan salah maka dia berdosa, sementara makmumnya tidak.” (Riwayat Ibnu Majah)

Setiap Imam menanggung solat makmumnya. Saidina Ali Bin Abi Talib pernah menjadi imam dan terlupa untuk berwuduk. Selepas itu beliau dan makmumnya mengulangi solatnya kerana bimbang dia akan memikul kesalahannya menjadi imam tanpa wuduk. Rasulullah sendiri pernah terlupa mandi junub dan ketika itu juga baginda hendak menjadi imam di dalam solat. Semasa Rasulullah hendak takbiratulihram, Baginda baru teringat bahawa dia terlupa mandi junub dan memerintahkan makmumnya supaya menunggu Baginda mandi junub dahulu. Setelah selesai mandi junub, Baginda datang untuk meneruskan solatnya secara jemaah.

Sebaiknya tugas imam ini dipikul oleh orang yang paling alim dan paling baik dan mempunyai kemampuan dari aspek kesihatan. Ini penting kerana imam yang uzur sedikit sebanyak akan menyusahkan makmumnya. Saya sendiri pernah menjadi makmum di sebuh masjid yang diimamkan oleh seorang tua. Bacaannya tidak menepati hukum tajwid kerana mungkin giginya sudah tiada, kemudian bacaannya putus-putus disebabkannya penat. Sebagai makmum sudah pasti resah dengan keadaan imam tersebut. Tidak mengapalah kalau dalam qariah itu tidak ada yang lebih layak darinya.

Ada juga imam yang dilantik dalam keadaan sakit dan tidak boleh bangun dari tidurnya da nada juga imam yang dilantik tidak pernah dating masjid dan makmumnya sendiri tidak pernah mengenalinya. Jadi dalam hal ini fikir-fikirlah dan saya tidak mahu mengulas panjang.

Dalam masalah yang dibangkitkan dalam pertanyaan di atas, tidak mengapalah kalau imam itu bacaannya secara biasa ataupun tadwir (tidak laju dan tidak lambat) kerana itu yang terbaik dan ia sudah memenuhi kehendak makmumnya. Kalau lambat sangat takut makmum yang tua dan uzur bermasalah kerana ada diantara mereka tidak mampu berdiri lama. Cepat sangat bermasalah juga bagi mereka. Jadi yang terbaik adalah pertengahan di antara kedua bacaan tersebut. Bagi saya tidak bermasalah imam cepat sedikit dalam rakaat 3 dan 4 kerana rakaat itu imam hanya membaca surah Al-Fatihah sahaja. Apa-apa pun imam berdiri mencukupi kadar masa bacaan surah Al-Fatihah sudah memadai dan boleh dianggap baik. Saya nasihatkan juga kepada semua pembaca janganlah mempunyai sangkaan yang buruk terhadap orang lain dan apa-apa pun rujuk kembali kepada orang tersebut. link asal